Cerita Dewasa Cerita Panas Januari 2013 Suatu Malam di Pematang Sawah
Aku anak SMA di sebuah
sekolah swasta ibu kota. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Dari pada
adikku, aku adalah anak yang paling cantik di keluarga. Kulitku mulus dan
mepunyai tinggi badan yang cukup ideal. Oleh karena keadaanku tersebut, banyak
lelaki di sekolahku yang mencoba untuk mengajak kenalan dan ujung-ujungnya
berpacaran ala anak ibu kota. Banyak lelaki terlalu berperilaku
manis. Aku sadar mereka begitu karena ada pamrih. Iya kecantikanku,
itulah yag membuat mereka selalu baik kepadaku.
Ibu kota, aku dilahirkan
dan dibesarkan di kota ini. Tuhan memberikan aku kelebihan. Dengan
kecantikanku, aku bisa menggaet cowok yang kaya. Maaf agak matre,,hh. Biasa
hidup di kota besar aku harus begitu. Himpitan keluarga mendorongku untuk
menyatu dengan kehidupan kota yang ganas ini. Karena aku mendapatkan layanan
mobil mewah itu dari pacarku dari antar jemputnya.
Karena terlalu sering
kami bersama, suatu keadaan memaksaku untuk kehilangan sesuatu yang berharga
dari hidup ini. Malam-malam aku mengajak tanding. Begini ceritanya:
Suatu hari kami berada
di suatu tempat yang sepi. Waktu itu hujan dengan lebatnya. Guyuran hujan
memaksa kami berdua untuk berteduh di dalam gubuk yang agak ke dalam masuk dari
jalan. Waktu itu kami sedang pulang dari luar kota untuk jalan-jalan. Akhirnya
kami yang sedang naik motor Ninja kehujanan langsung berniat untuk berteduh.
Malam yang dingin ditemani cahaya motor pacarku dengan perlahan menjemput kami.
Sebuah gubuk tersorot oleh cahaya motor. Kami kemudian berteduh di tempat itu,
karena takut kehujanan.
Gelap memanjakan kami.
Betapa tidak. Tidak ada kendaraan yang lalu lalang di tempat itu. Gubuk itu
cukup luas hingga ada iblis yang datang. Pikiranku kalang kabut setelah
sandaranku ke dada pacarku. Aku merasakan kehangatan. Ku pancing pacarku untuk
melakukan sesuatu dan akhirnya,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, Sukses. Ku buka
bajuku perlahan setelah memastikan
jalanan sepi. Malam menuntunku untuk melakukan sesuatu. Pacarku diam
saja. Aku semakin berani untuk membuka bajuku kemudian.
"Mas, Kalau engkau
mau, ambil saja sekarang tidak apa. Aku rela." Begitu kataku di samping
leher kanannya.
"Tetapi tidak
sekarang. Tidak sekarang kita melakukan itu. Sebab aku ingin kau harus utuh
sebagai gadis hingga pernikahan kita nanti. Aku ingin pernikahan kita nanti
juga tak terdorong oleh keadaan yang mendesak, oleh suatu permintaan tanggung
jawab olehmu. Aku juga tak ingin pernikahan hanya sebatas alat penyelamatan
nama baik kita dan keluarga kita. Iya, bukan pernikahan karena
kehamilanmu."
"Lantas kau
menolaknya sekarang?"
"Aku tak menolak
sepenuhnya. Jujur, aku sungguh ingin melakukan perbuatan itu. Hanya saja aku
menolak waktu. Aku hanya ingin melakukannya setelah ijab qabul terdengar oleh
langit dan bumi."
"Hmmmm begitu ya.
Sejak kapan kau berpikiran seperti itu? Aku jadi ragu terhadap cintamu."
"Sejak aku
mengetahui letak dimana kehormatanmu sebagai wanita dan kekasihku. Yah,
terserah dengan keraguanmu. (ambil pesan moralnya ya readers,,hhhhh)
0 comments:
Post a Comment